Owa jawa (Hylobates moloch) merupakan satu satunya jenis kera kecil
(lesser apes) yang terdapat di pulau Jawa. Penyebaran primate tersebut terbatas
pada hutan tropis yang relatif tidak terganggu di hutan-hutan Jawa Barat dan
beberapa hutan di Jawa Tengah (Kappeler, 1987). Owa jawa jawa merupakan satu dari 9 jenis Hylobatidae yang ada di
Asia Tenggara. Enam jenis Hylobatidae yang terdapat di Indonesia adalah: Bilou
(Hylobates klosii), Serudung (Hylobates lar), Siamang (Hylobates syndactylus),
Ungko (Hylobates agilis), dan Kelawet (Hylobates mulleri). (Leighton,1986). Owa
jawa hidup berpasangan dalam sistem keluarga monogami, artinya pada satu
kelompok terdiri dari sepasang induk jantan dan betina serta beberapa individu
anak. Masa hamil Owa jawa ini antara 197-210 hari, jarak kelahiran antara anak
yang satu dengan anak yang lain berkisar antara 3-4 tahun. Umumnya Owa jawa dapat
hidup hingga 35 tahun (Supriatna & Wahyono, 2000).
Owa jawa
memiliki tubuh yang ditutupi rambut berwarna kecokelatan sampai keperakan atau
kelabu. Bagian atas kepalanya berwarna hitam. Bagian muka seluruhnya juga
berwarna hitam dengan alis berwarna abu-abu yang menyerupai warna keseluruhan
tubuh Beberapa individu memiliki dagu berwarna gelap. Warna rambut jantan dan
betina berbeda, terutama dalam tingkatan umur. Umumnya anak yang baru lahir
berwarna lebih cerah. Antara jantan dan betinanya memiliki rambut yang sedikit
berbeda. Panjang tubuh berkisar antara 750 - 800 mm. Berat tubuh jantan antara
4-8 kg sedangkan betina antara 4-7kg. (Supriatna & Wahyono, 2000).
Ciri khas yang
lain adalah lengannya sangat panjang dan lentur, lebih panjang dari kakinya
hampir dua kali panjang tubuh, dengan jari pendek dan senjang dari telapak
tangan. Sendi pada ibu jari dan pergelangan tangannya adalah kontraksi peluru
dan soket bukan sendi engsel pada banyak primata sehingga mobilitasnya sangat
tinggi . Owa jawa memiliki tubuh yang langsing karena beradaptasi terhadap
pergerakannya dan membantu dalam berayun (brakhiasi). Suara pada Owa jawa jawa
dapat didengar oleh manusia hingga jarak 500-1500 meter (Kappeler, 1984).
Seperti Owa
jawa lainnya, Hylobates moloch adalah spesies arboreal, tinggal di
kanopi hutan bagian atas, serta tidur dan istirahat di bagian emergent pohon
(Leighton, 1987). Emerjen merupakan bagian mahkota pohon yang tertinggi
diantara pohon lain disekitarnya, lapisan ini paling banyak menerima sinar
matahari (Haris, 2003).
Owa jawa
merupakan satwa diurnal dan arboreal (Rowe,1996), menurut Gurmaya, et.all.1992,
umumnya Owa jawa Jawa aktif pada pagi hari yaitu pada pukul 05.30 – 06.50 Wib
dan mencapai puncaknya sekitar pukul 09.00 – 10.00 Wib, dan aktif kembali pada
sore hari pukul 16.00 – 17.00 Wib sebelum akhirnya mencapai pohon tidur. Dalam melakukan aktivitasnya Owa jawa biasanya berada pada lapisan
kanopi paling atas (Nijman, 2001).
Terancamnya
kelestarian Owa jawa (Hylobates moloch) menyebabkan satwa endemik
tersebut memerlukan upaya konservasi yang bermanfaat bagi peningkatan jumlah
populasinya di alam. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan melepasliarkan Owa
jawa yang telah melalui proses rehabilitasi ke habitat alaminya. Menurut Cheyne
(2004: 45) rehabilitasi tidak dapat menggantikan proses pembelajaran seperti di
alam, namun melalui rehabilitasi owa jawa dapat belajar berbagai kemampuan yang
dibutuhkan untuk bertahan hidup di alam
Cheney (2004:
176) menyatakan bahwa terdapat tiga kriteria keberhasilan rehabilitasi dan
pelepasan owa. Kriteria pertama yaitu satwa dapat bertahan hidup di habitat
alami yang diindikasikan dengan kemampuan mencari dan menemukan pakan. Kriteria
kedua yaitu terjaganya ikatan antar pasangan yang ditandai dengan terjadinya
kopulasi. Kriteria ketiga yaitu dihasilkannya keturunan yang mampu bertahan
hidup. Tingkat keberhasilan pelepasan Hylobatidae yang telah dilakukan relatif
rendah, yaitu hanya 11% dari 145 pelepasan. Tingkat keberhasilan yang rendah
menunjukkan banyak individu yang tidak mampu bertahan hidup setelah pelepasan
dilakukan. Menurut Cheyne (2004:44) tingkat keberhasilan rehabilitasi dan
pelepasan owa yang rendah disebabkan satwa tidak memenuhi kriteria kesiapan
perilaku pelepasan dan tidak dilakukannya post monitoring support.