Jumat, 23 Oktober 2015

Animal Behavior (Behavior of java primate : owa jawa)



Owa jawa (Hylobates moloch) merupakan satu satunya jenis kera kecil (lesser apes) yang terdapat di pulau Jawa. Penyebaran primate tersebut terbatas pada hutan tropis yang relatif tidak terganggu di hutan-hutan Jawa Barat dan beberapa hutan di Jawa Tengah (Kappeler, 1987).  Owa jawa jawa merupakan satu dari 9 jenis Hylobatidae yang ada di Asia Tenggara. Enam jenis Hylobatidae yang terdapat di Indonesia adalah: Bilou (Hylobates klosii), Serudung (Hylobates lar), Siamang (Hylobates syndactylus), Ungko (Hylobates agilis), dan Kelawet (Hylobates mulleri). (Leighton,1986). Owa jawa hidup berpasangan dalam sistem keluarga monogami, artinya pada satu kelompok terdiri dari sepasang induk jantan dan betina serta beberapa individu anak. Masa hamil Owa jawa ini antara 197-210 hari, jarak kelahiran antara anak yang satu dengan anak yang lain berkisar antara 3-4 tahun. Umumnya Owa jawa dapat hidup hingga 35 tahun (Supriatna & Wahyono, 2000).
Owa jawa memiliki tubuh yang ditutupi rambut berwarna kecokelatan sampai keperakan atau kelabu. Bagian atas kepalanya berwarna hitam. Bagian muka seluruhnya juga berwarna hitam dengan alis berwarna abu-abu yang menyerupai warna keseluruhan tubuh Beberapa individu memiliki dagu berwarna gelap. Warna rambut jantan dan betina berbeda, terutama dalam tingkatan umur. Umumnya anak yang baru lahir berwarna lebih cerah. Antara jantan dan betinanya memiliki rambut yang sedikit berbeda. Panjang tubuh berkisar antara 750 - 800 mm. Berat tubuh jantan antara 4-8 kg sedangkan betina antara 4-7kg. (Supriatna & Wahyono, 2000).
Ciri khas yang lain adalah lengannya sangat panjang dan lentur, lebih panjang dari kakinya hampir dua kali panjang tubuh, dengan jari pendek dan senjang dari telapak tangan. Sendi pada ibu jari dan pergelangan tangannya adalah kontraksi peluru dan soket bukan sendi engsel pada banyak primata sehingga mobilitasnya sangat tinggi . Owa jawa memiliki tubuh yang langsing karena beradaptasi terhadap pergerakannya dan membantu dalam berayun (brakhiasi). Suara pada Owa jawa jawa dapat didengar oleh manusia hingga jarak 500-1500 meter (Kappeler, 1984).
Seperti Owa jawa lainnya, Hylobates moloch adalah spesies arboreal, tinggal di kanopi hutan bagian atas, serta tidur dan istirahat di bagian emergent pohon (Leighton, 1987). Emerjen merupakan bagian mahkota pohon yang tertinggi diantara pohon lain disekitarnya, lapisan ini paling banyak menerima sinar matahari (Haris, 2003). 
Owa jawa merupakan satwa diurnal dan arboreal (Rowe,1996), menurut Gurmaya, et.all.1992, umumnya Owa jawa Jawa aktif pada pagi hari yaitu pada pukul 05.30 – 06.50 Wib dan mencapai puncaknya sekitar pukul 09.00 – 10.00 Wib, dan aktif kembali pada sore hari pukul 16.00 – 17.00 Wib sebelum akhirnya mencapai pohon tidur. Dalam melakukan aktivitasnya Owa jawa biasanya berada pada lapisan kanopi paling atas (Nijman, 2001).
Terancamnya kelestarian Owa jawa (Hylobates moloch) menyebabkan satwa endemik tersebut memerlukan upaya konservasi yang bermanfaat bagi peningkatan jumlah populasinya di alam. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan melepasliarkan Owa jawa yang telah melalui proses rehabilitasi ke habitat alaminya. Menurut Cheyne (2004: 45) rehabilitasi tidak dapat menggantikan proses pembelajaran seperti di alam, namun melalui rehabilitasi owa jawa dapat belajar berbagai kemampuan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup di alam
Cheney (2004: 176) menyatakan bahwa terdapat tiga kriteria keberhasilan rehabilitasi dan pelepasan owa. Kriteria pertama yaitu satwa dapat bertahan hidup di habitat alami yang diindikasikan dengan kemampuan mencari dan menemukan pakan. Kriteria kedua yaitu terjaganya ikatan antar pasangan yang ditandai dengan terjadinya kopulasi. Kriteria ketiga yaitu dihasilkannya keturunan yang mampu bertahan hidup. Tingkat keberhasilan pelepasan Hylobatidae yang telah dilakukan relatif rendah, yaitu hanya 11% dari 145 pelepasan. Tingkat keberhasilan yang rendah menunjukkan banyak individu yang tidak mampu bertahan hidup setelah pelepasan dilakukan. Menurut Cheyne (2004:44) tingkat keberhasilan rehabilitasi dan pelepasan owa yang rendah disebabkan satwa tidak memenuhi kriteria kesiapan perilaku pelepasan dan tidak dilakukannya post monitoring support.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar